PARODI JODOH
~Tuhan lebih tahu dari pada ibu atau nenek~
Drama perjodohan sering kali menyapa hidup kita tanpa kita
sadari
Ini adalah sepenggal parody yang terjadi dikeluarga besar
saya
Atau sebut saja siapa yang makan nangka siapa yang kena
getahnya lebih jelasnya siapa yang bertingkah siapa yang kena damprat… itulah
gunanya ada istilah korban huwehehehe
Jadi ketika saya dan sepupu saya menyaksikan iklan televisi
yg berkata “ALWAYS ON” yang diterbitkan oleh salah satu provider, kami hanya bisa
tertawa cekikikan… think again… berpikir ala 'always on' atau ikut nenek bilang
Parody perjodohan
kadang rumit, menjengkelkan dan menggelikan. Tapi ketika kita mencerna dan
menjalaninya dengan ikhlas everything gonna be okay ß kata saya
Ketika saya bertanya pada ibu saya “mama pengen mantu kaya
apa”
Ibu saya hanya menjawab “yang penting” mau dan bisa di ajak
hidup bersama, gak Cuma ganteng wajahnya tapi juga kelakuanya --à think again…. Always On??? hahahaha :D
Ketika om saya menikahi seorang gadis asal “ujung” jawa
timur dengan perjalanan 14 jam dari rumah kami, -kebetulan saja waktu itu
jalanan macet berhubung masih mudik lebaran, yg harusnya 14 jam jadi hampir 20
jam-
Dalam kemacetan panjang Ayah saya berkata “nanti kamu kalau
cari suami jangan jauh-jauh ya… nganterinya capek apalagi kalo macet kaya gini”
Sambil tertawa saya menjawab “ntar nyari anak tetangga saja,
kalo bisa yg depan rumah jadi ntar pas acara nyewa tendanya bisa barengan”
spontan Ibu saya ketawa terbahak-bahak, kemudian berbisik kepada saya “kalo
jodoh boleh milih atau boleh nawar, mama nggak mau sama bapakmu” dan kali ini gantian
saya yang cekikikan… ya. Saya tau pas jaman muda ayah saya terkenal playboy dan
sok ngartis, buat ibu saya itu menyebalkan.
Sketsa lainya ketika nenek saya yang mencarikan jodoh buat
kakak saya, dari mulai menyambangi dukun sampai kyai… :D atau sodara perempuan
saya yang tidak diijinkan menikah dengan pacarnya kemudian bilang pada orang
tuanya bahwa dia telah hamil, kenyataanya dia benar2 hamil setelah menikah dua
tahun
Atau sebuah standarisasi persukuan. Nenek saya mencoba untuk
berkata pada sepupu laki-laki saya yang kuliah di bandung “jangan cari istri
orang sunda… matre and the bla and the bla… “
Parahnya ketika para ibu di keluarga besar kami mendapati
menantu laki-laki tidak bekerja, atau pilih-pilih pekerjaan padahal dia harus
menafkahi anak dan istrinya. Maka kena dapratlah semua anak gadis yang belum
menikah di keluarga kami. “kalo cari suami jangan Cuma lihat gantengnya, atau
anaknya orang kaya, “yang penting” mau kerja keras dan tanggung jawab sama
keluarganya and the bla and the bla :D
Suatu ketika saya berpikir, mau diapa apain kalo sudah jodoh
ya bakal ketemu
Jodoh tidak bisa ditawar ataupun dibelokkan, mau belok kanan
kiri pun kalau sudah jodoh ya ujungnya ketemu juga.
Saya belajar satu hal dari ibu saya, menerima pasangan hidup
apapun adanya dia, tanpa syarat dengan hati yang rela, apapun yang terjadi,
berapapun banyak ujian, akan ada banyak alasan untuk tetap bertahan hidup dalam
kesetiaan J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar