Senin, 20 Juli 2015

Tabir yg harus terbuka dan pintu yang dibukakan

Ini mungkin jawaban dari doaku. Dari penantianku. Atau ini adalah cara Dia mengajari aku. Bagaimana agar aku bisa mencapai tujuanku.

Entah apa yg terjadi...
Aku melihat diriku. Berpindah dari kamar satu ke kamar yang lain. Terkadang aku menenpati kamar yang rusak. Terkadang aku harus berbagi kamar dengan orang lain. Terkadang aku harus berebut dengan orang lain.
Aku melihat diriku bertengkar dengan seseorang. Dia pergi meninggalkanku. Aku melihatnya benar2 pergi. Aku mendapati kamar yang rusak penuh kotoran. Kemudian aku melihat seseorang datang menolongku. Menggendong aku dipunggungnya. Ada banyak orang disana tp hanya dia yg menolongku. Mengangkat aku dari tempat yg kotor dan menggendongku di punggungnya.

Aku melihat diriku mulai memperbaiki tembok yang retak. Menambal setiap retakanya. Menyumbat yang bocor. Mengecatnya kembali. Meskipun tidak sebagus mulanya setidaknya sudah tak ada retakan dan lubang disana.
Kemudian aku melihat orang yang meninggalkan aku. Ya aku melihatnya datang bersama orang lain. aku hanya diam menatapnya.
Kemudian aku melihat diriku masuk ke kamar yang begitu luas. Yang di kelililingi oleh kamar2 yang kecil kecil. Di sebelahku ada sebuah tirai hitam. Ada pintu diantara ruang yg aku tempati dan ruang di balik tirai itu. Aku melihat koperku ada di sebedang sana. Ketika aku hendak mengambilnya aku tau orang yg meninggalkanku ada disana. Aku diam sejenak. Kemudian aku berusaha menarik koperku yg masih tertinggal disana. Aku mulai menariknya belum sampai aku mendapatkan koperku aku melihat tangan orang yg ada dibalik tirai itu menarik tanganku. Mencoba meraihku dengan kuat. Seakan ingin menarik aku ke dalam sana. Tapi aku meronta dengan kuat untuk melepaskan diri. Aku berhasil lepas dari dia. Kemudian aku menyadari kepalaku tertutup kain yang begitu tipis sampai aku tidak sadar bahwa sebenarnya aku terselubungi. Aku berusaha menarik itu dari kepalaku. Ternyata selubung itu sangat panjang. Aku terus menariknya. Ketika tangan di balik tirai itu mencoba menarikku kembali. Aku terus meronta menarik kain selubung itu dari kepalaku. Semakin aku menariknya dan berusaha keluar seakan tak ada ujungnya. Aku terus berusaha melepaskab diri dari jerat kain selubung itu. Aku terus berteriak memanggil NamanNya. Memohon pertolongan. Sampai akhirnya aku terlepas dari kain selubung itu. Ketika kain selubungnya terlepas aku melihat pintu yang ada di depanku terbuka. Aku melihat kamar yang begitu bersih dan sangat rapi. Aku tidak melihat seorangpun disana. Tapi setelah pintunya lerbuka penuh aku lihat dari sudut yang agak gelap seseorang ada di sana. Dia beedecak jengkel mendengar keributan dan suara gaduh yg aku buat. Aku mengira pintunya terbuka sendiri tapi ternyata ada seseorang yang membukanya. Dia membukanya dari dalam.

Aku menuliskan kisah ini. Senin 21 Juli 2015. Aku menyelaikanya pd pukul 01.14AM.
Aku ingin mengingatnya. Menyimpanya dalam hatiku.
Mungkin kelak akan kubagikan dg orang lain sebagai sesuatu ug memberkati.

With Love...

Selasa, 12 Mei 2015

The Little Gift from Heaven


Tulisan ini mungkin salah satu lembaran yang kelak akan kubuka ketika aku mengalami masa kesesakan. hari dimana aku mengalami banyak hal. bagaimana seseorang menolongku melewati masa kesesakanku. Dia mungkin tidak pernah tau.

Desember 2014
Masa paling menyesakkan, selah semua oksigen di semua tempat mulai habis. peralihan tanggung jawab. sebuah departemen yang penuh dengan orang2 yang bekerja dibalik layar. orang2 yang kinerjanya tidak terlihat. departemen yang bekerja untuk kenyamanan kerja banyak orang.
aku mulai kehilangan banyak teman. mulai merasa dihimpit banyak kesesakan. berawal dari peralihan tanggung jawab yang terlihat seperti podium kekuasaan yang di ingini banyak orang.

Januari 2015
awal dari semua kesesakan, dengan tanggung jawab besar, menjadi sendi dari setiap sistem pergerakan sebuah divisi.
ya Infrastructure Department. berapa banyak orang yang mau bekerja disini, menghabiskan waktunya melayani permintaan banyak orang. atau lebih terlihat seperti tempat nongkrong orang2 R&D dan orang2 IT, departemen yang bekerja tanpa terlihat, departemen yang menampung semua tuntutan antar bagian.

aku mulai lelah dengan semua tuntutan kerja, aku mulai menimbun banyak sampah, mulai temperamental, mulai sering marah, jadi penggerutu.

Febuari 2015
dari semua tempat yang mulai menyesakkan aku butuh tong sampah, untuk mengucapkan banyak keluhan kekesalanku, atau mungkin lebih tepatnya tempat agar aku bisa memaki banyak orang.
tempat aku mengeluarkan semua amarahku tanpa seorangpun yang tau

ya aku menemukanya... aku mulai menumpahkan kekesalanku
tapi bukan hanya itu, aku menemukan sesuatu yang lain. aku menemukan seseorang, untuk alasan apa dan untuk tujuan apa dia ada disana. diwaktu yang sama di tempat yang sama. aku mengenalnya.

entah bagaimana aku mengenalnya, entah bagaimana aku dekat dengannya, entah sejak kapan dia memberikan banyak pengaruh dalam hidupku,
jika bisa dikatan iseng2 berhadiah mungkin aku sedang beruntung karena aku menang lotre.
aku menerimanya menjadi bagian dari hidupku. membiarkanya masuk. dan mulai menikmati kehadiranya.

seperti sumber semangat, dia menjadi teman saat aku duduk di balik meja kerjaku, setiap telephon selulerku berbunyi aku berharap itu dia, bukan tugas baru pimpinanaku, bukan sub bagian dg segala keruwetannya, bukan departemen lain yang minta fasilitas, bukan juga koordinasi kerja. tapi seseorang yang menayakan kabarku, bagaimana keadaanku, apa yang sedang kulakukan, dan membuatku tersenyum.
disaat semua orang menuntut aku sebagai pribadi yang sempurna, ketika semuanya harus dikerjakan dg perfect dia seperti obat yang membuatku lupa, berapa jam aku harus bekerja ekstra. mesku aku pura2 acuh, setiap kali aku melirik telpon genggamku, menunggu dia ada untuk mengobati semua kekesalanku.

entah sejak kapan aku jatuh hati padanya, sejak kapan aku merasa hariku kurang jika dia tidak ada, aku tidak melihatnya secara fisik, tapi dia banyak mempengaruhiku secara emosional.

banyak hal aku yang lewati, sampai aku merasa nyaman denganya. tetapi perasaan itu mulai salah, sejak rasa nyamanku dengannya berubah menjadi ambisi. ambisi menjadikanya sebuah "milik"
itu jelas sesuatu yang salah.
jauh sebelum aku mengenalnya dia adalah pribadi yang bebas.
tapi dalam waktu 3 bulan dia seperti alat untuk memprosesku.

sejak mengenalnya aku terus mengalami berbagai hal.
dia orang yang mengajariku bagaimana melepaskan diri dari kurungan pikiranku sendiri.
dia yang membuka paradigma bahwa seseorang yang mengasihimu itu bukan yang memanjakanmu dengan zona nyamanmu. tetapi tau bagaimana memangkas semua keburukanmu.
bersamanya aku tidak perlu menjadi sempurna, aku tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain untuk terlihat sempurna. orang yang membuatku nyaman meski dia tau banyak kekuranganku. yang tetap memberiku kesempatan meski aku sering mengecewakanya.

dia yang menyadarkanku bagaimana menghargai perasaan orang lain,

aku mulai sadar
kapan aku bisa merespon orang lain dengan baik
kapan aku mulai dingin dan mengacuhkan banyak orang yang mencoba dekat denganku.
kapan aku berhenti peduli dengan perasaan orang lain.

aku sudah membekukan diriku selama 3 tahun. aku membiarkan lapisan es yang dingin menyelimuti hatiku..
ketika orang lain berusaha mencairnya pelan2 dan perlahan dia menemukan titik kelemahanku,dan menghancurkannya dalam sekali pukul. sakit? pasti.
tapi dia mampu melakukan pekerjaan orang lain selama 3 tahun dan sia-sia
dia melakukanya dalam 3 bulan.

Dia tidak tau selama bersamanya  dia merubahku menjadi orang yang terbuka. menjadi pribadi yang lebih hangat
Dia tidak tau selama aku bersamanya dia membuatku kembali dekat dengan teman2 ku dia mengajariku bahaimana menghargai seorang teman
Dia tidak tau selama aku bersamanya aku mulai menerima banyak hal yang dulu aku tidak menyukainya.
Dia tidak tau selama aku bersamanya aku menemukan semua titik lemahku, dan bagaimana aku berjuang mengatasinya, memperbaikinya.
Dia tidak tau, berkat dia aku mempunyai banyak ruang untuk teman2ku, aku punya banyak ruang
untuk anak anak curhat dan mengeluh, aku mulai bisa mendengarkan keluhan tanpa mengeluh. aku mulai membuka diri dan lebih kooperatif dengan rekan kerjaku.
dia menutup lubang yang aku pernah aku punya karena merasa ditinggalkan.
dia tidak tau, perhatianya yang dia bilang hanya iseng bisa merubahku kembali jadi orang yang peduli.

dan aku mulai hilang arah ketika rasa nyamanku menjadi obsesi, membuatku menjadi orang yang egois. tapi sekali lagi, tanpa dia tau dia meruntuhkan semua ke Akuanku

aku kehilangan dia karena kesalahanku. karena ketidak pedulianku.
tapi disana aku belajar banyak hal.


meski mungkin aku tidak bisa lagi memiliki perhatianya setidaknya dia pernah memberi invest yang hampir mustahil dilakukan oleh orang lain selama 3 tahun.

Selasa, 05 Mei 2015

Pandangan

Apa yg terlihat oleh mata kiri anda saat anda menutup mata kanan anda. Kemudian lakukan sebaliknya.
Apakah keduanya melihat hal yg sama?

Sepertinya sama. Tapi ketika anda perhatikan keduanya mempunyai sudut pandang yang berbeda. Sepertinya berdekatan sepertinya bersama sama melihat sesuatu yang sama. Padahal ada yg dilihat mata kanan tp tak terlihat oleh mata kiri. Begitupun sebaliknya.

Sama seperti hidup kita. Seperti 2 mata kita. Ketika kita memiliki partner. Kalo fokus pada apa yg dilihat salah seorang maka selamanya tidak akan memiliki visi yg sama.

Sering kali kita dengan partner bersikeras dg masing2 apa yg kita lihat. Apa yang aku lihat kamu tidak lihat. Apa yang kamu lihat aku tidak lihat. Jadi sampai kapan akan menjadi aku dan kamu? Kapan aku Dan kamu menjadi kita?

Padahal untuk bisa berjalan bersama sama keduanya harus fokus pada visi yg sama. Bukan apa yg aku lihat dan apa yang kamu lihat. Tetapi fokuslah pada "apa yang kita lihat. Apa yang ingin kita lihat berikutnya. Apa yg sudah kita lihat bersama"
Sehingga punya satu visi yang akhirnya membawa kita pada suatu pandangan ke depan yg seirama. Dan membawa kita pada satu tujuan.

Selamat pagi kepada semua partnerku.

Rekan kerjaku
Teman bermainku
Partner hidupku :)

Selasa, 17 Maret 2015

Everyday is learning

Kadang kita merasa hidup banyak memberi ruang sesak. Tapi kenyataanya kita yg menyesakkan diri.

~pengalaman itu bukan seberapa lama kamu hidup tapi seberapa banyak kamu belajar dari hidup itu~

Kali ini hidup benar benar mendidik saya.

Seseorang berkata kepada saya. "Kamu boleh mengalami banyak hal. Kamu boleh melewati hari hari yg paling buruk. Tapi jgn pernah berhenti jadi orang baik."

Seringkali apa yg terjadi dalam hidup kita ini mudah menjadi patokan dalam hidup. Hal hal kecil yg menjadi batu sandungan kaki kita untuk melangkah.

Setiap orang pasti pernah mengalami hari hari terburuk dalam hidup mereka. Hari hari yg membuat seluruh dunia dalam hidupnya berubah.

Saya jadi enggan membantu orang karena pernah mengalami hal dimana kebaikan saya disalah gunakan

Saya jadi enggan menanyakan kabar teman teman lama saya karena saya enggan berbagi cerita hidup saya kepada mereka. Saya pernah merasa dihianiti oleh sahabat sendiri. Yg membuat saya lebih nyaman melakukan banyak hak sendiri saja.

Saya enggan untuk berteman karib. Enggan untuk dekat dengan seseorang dalam waktu yang lama karena merasa teman adalah orang yang paling berpotensial menjadi musuh, karena mereka tau terlalu banyak tentang kita

Saya enggan percaya pada orang orang yg begitu mempercayai saya. Karena ada satu orang saja yang menghianati kepercayaan saya.

Ini bahkan sama sekali tidak adil bagi orang orang yg ada disekitar saya. Yg nyata mengasihi saya dengan tulus.

Saya menumpuk sampah dihati saya, karena ada sedikit orang yg pernah memberikan pengalamn buruk dalam hidup saya. Dan membenci semua orang yang mengasihi saya.

Sadara saya pernah berkata. "Dari kecil satu satunya ambisiku cuma ngalahin kamu, kamu selalu baik dalam banyak hal. Dikelilingi oleh orang2  yang hebat. Tapi sayangnya ambisiku untuk ngalahin kamu sudah gak semenarik dulu. Sebab kamu sudah menjadi orang yang kalah. "

Saudara saya mengingatkan saya, semua bisa berubah, manusia waktu,tempat,perasaan,semuanya. Tapi jangan pernah berubah menjadi lebih buruk.

Hanya satu dua orang memberi pengalaman buruk, saya merasa seluruh dunia berubah.

Tapi dari sini saya belajar. Tuhan tidak pernah berubah. Dia masih Tuhan yang mendidik. Mengasihi dan menyayangi saya. Dia Tuhan yang mengajari bagaimana hidup berkenan. DihadapanNya dan dihadapan manusia. :)

Jumat, 13 Februari 2015

Renungan

Sy sesekali bertanya pada diri sendiri. Sebenernya esensi dari pencitraan itu apa? Apakah make-over itu memperbaiki kualitas diri atau hanya visualisasi dr sebuah pencitraan?

Sy terlalu nyaman dg diri sy. Yg tidak terlalu feminim. Yg tdk terlalu terpengaruh dg fashion. Sy menyukai diri sy sebagai "saya"
Bahkan ketika teknologi bisa membuat rambut lurus jadi keriting. Rambut keriting jadi lurus. Saya cukup menyukai rambut sy yg berantakan. Bahkan menyenangkan mengetahui sessorang berkata "i love your messy hair" dan ketika sessorang berkata "gak semua orang berantakan itu ngeselin. Aq malah seneng liat kamu yg tampil sehari2 ketimbang km dg seragammu"

Ketika sy mendapatkan profesi sy, sebenarnya sy dituntut banyak hal. Atau orang biasa menyebutnya sbg "tuntutan karir". Yg menyenangkan adalah ketika ada banyak orang yg melihat sy pas jam kerja hampir tidak mengenali sy ketika weekend. Sy tampak seperti 2 orang yg berbeda. Ya hanya pengaruh busana.

Tp apa yg di dalam diri sy tidak banyak berubah. Hanya tampilan luarnya saja.

Profesi sy mungkin menuntut sy u terlihat baik dalam hal apapun. Tp kenyataanya sy tidak terlalu menyukai "kesan" yg ditimbulkan hanya dh baju seragam.

Sy tetaplah sy yg gokil, yg kadang terlihat aneh, yg garing, getir.

Sy bukan orang yg ramah dg orang yg baru dikenal. Tp ada kalanya sy bisa langsung berteman akrab dg orang yg baru sy kenal 1 jam lalu. 

Sebab Tuhan mendesain sy sebagaimana seharusnya sy. Setiap perubahan dlm hidup sy adalah melalui proses. Dimana disetiap proses itu ada campur tangan Tuhan yg ajaib.

14 feb 2015.